Inovasi Mahasiswa KKN Unimal : Dari Pestisida Alami Hingga Alat Penebar Pupuk Sederhana, Wujudkan Pertanian Ramah Lingkungan di Desa Pinto Makmur

Tim Siyasah
4.2.26
Last Updated 2026-02-04T09:06:09Z
Premium By Raushan Design With Shroff Templates

Mahasiswa KKN Kelompok-24 Unimal Lhokseumawe mengabdi di Desa Pinto Makmur, Kecamatan Muara Batu, Aceh Utara, 

ACEH UTARA, SIYASAH News | Semangat pengabdian dan inovasi mahasiswa kembali memberi kontribusi nyata bagi pengembangan pertanian di pelosok Aceh Utara. Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok-24 Universitas Malikussaleh (Unimal) Lhokseumawe yang mengabdi di Desa Pinto Makmur, Kecamatan Muara Batu, Aceh Utara, menghadirkan solusi ramah lingkungan, melalui sosialisasi pembuatan pestisida alami serta pelatihan pembuatan alat penebar pupuk sederhana yang disambut antusias oleh para petani setempat.

Program ini lahir dari observasi mendalam terhadap kondisi pertanian di desa tersebut. Banyak petani yang masih bergantung pada pupuk dan pestisida kimia dengan biaya tinggi, yang berpotensi menimbulkan dampak jangka panjang terhadap kesehatan tanah, ekosistem, dan keberlanjutan pertanian itu sendiri. Melihat peluang tersebut, mahasiswa KKN Kelompok-24 Unimal menggagas sosialisasi sebagai langkah awal perubahan paradigma.

“Kami ingin memperkenalkan bahwa ada alternatif yang lebih aman, murah, dan bisa dibuat sendiri dari bahan-bahan di sekitar kita. Tujuannya mengurangi ketergantungan pada bahan kimia sekaligus menjaga kesuburan tanah jangka panjang,” ujar Firman Alamsyah, Ketua Kelompok-24 KKN, menjelaskan filosofi di balik program mereka.

Sosialisasi pembuatan pestisida alami menjadi agenda pertama yang menarik perhatian. Dalam sesi yang interaktif, mahasiswa mempraktikkan langsung cara mengolah bahan-bahan seperti kulit bawang menjadi larutan pestisida yang efektif mengusir hama. Para petani yang hadir terlihat serius memperhatikan setiap tahapan, mulai dari pencampuran, fermentasi, hingga penyaringan. Bahan-bahan tersebut dipilih karena memiliki sifat pestisida alami dan mudah ditemui di lingkungan desa.

“Selama ini beli pestisida kimia itu memberatkan. Kalau ini bisa dibuat sendiri, jelas menghemat biaya produksi. Apalagi katanya lebih aman untuk tanah dan sayuran kita sendiri,” kata Pak Masrizal, petani sayur di Pinto Makmur. Dia mengaku sangat tertarik untuk segera mencoba metode baru ini di kebunnya.

Inovasi kedua tak kalah praktis, alat penebar pupuk sederhana berbahan dasar paralon dan kaleng bekas. Alat ini dirancang untuk membantu para petani menebar pupuk padat (seperti pupuk kandang atau kompos) secara lebih merata, efisien, dan tidak terlalu melelahkan dibandingkan cara manual dengan tangan atau ember. Desainnya yang sederhana memungkinkan siapa saja untuk membuatnya dengan biaya minimal.

“Prinsipnya low cost, high impact. Bahannya mudah dicari, cara pembuatannya kita ajarkan step by step. Dengan alat ini, diharapkan proses penebaran pupuk bisa lebih cepat dan hasilnya lebih rata, sehingga pertumbuhan tanaman juga lebih optimal,” papar Zaky, mahasiswa yang terlibat dalam perancangan alat.

Kedua program ini tidak hanya sekadar pelatihan satu arah. Mahasiswa KKN 24 Unimal juga melakukan pendampingan langsung ke beberapa kebun percontohan untuk memastikan penerapannya. Mereka juga mengibahkan hasil karya yang telah di buat dan dipraktekkan kepada masyarakat, agar ilmu yang telah diberikan dapat terus diakses dan diterapkan oleh seluruh warga bahkan setelah masa KKN berakhir.

Dampak program ini dapat memberikan pengetahuan baru estafet ilmu dan inovasi yang diberikan kepada warga dan juga memudahkan dalam pelaksanaan penerapan tersebut.

Imum Pinto Makmur, Tengku Masrizal menyampaikan apresiasi yang tinggi. “Kedatangan adik-adik mahasiswa KKN Unimal ini sangat membawa manfaat. Mereka membawa ilmu baru yang aplikatif dan ramah lingkungan. Kami berharap inovasi ini bisa menjadi kebiasaan baru para petani kita menuju pertanian yang lebih sehat dan berkelanjutan,” ujarnya.

Kelompok-24 KKN Unimal membuktikan bahwa pengabdian masyarakat tidak melulu tentang proyek fisik berskala besar. Terkadang, inovasi sederhana yang lahir dari pemahaman kebutuhan lokal, dilandasi semangat ramah lingkungan, justru mampu menebar manfaat yang lebih dalam dan berjangka panjang bagi kemandirian dan kesejahteraan masyarakat desa. Langkah kecil mereka di Pinto Makmur ini diharapkan dapat menjadi pemantik bagi gerakan pertanian organik dan mandiri di Wilayah Aceh Utara.(rel/red)

iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Stars Rally to Beat Predators in Winter Classic at Cotton Bowl