Pestisida Diam-diam Membahayakan Sang Pejuang Pangan

SiyasahNews
2.10.26
Last Updated 2026-10-02T14:46:55Z
Premium By Raushan Design With Shroff Templates
Oleh : Darwis Kuta (Ketua LSM Flofa Aceh)

Ketua Flofa Aceh bersama petani Aceh Utara 

KETIKA seorang petani berdiri di tengah sawah. Tangki semprot berisi pestisida, berada di punggungnya. Sesat kemudian, kabut semprotan menyelimuti tanaman padi. Hama mati. Petani tersenyum karena tanamannya terselamatkan. Tapi tunggu, sudahkah petani terlindungi dari bahan-bahan pestisida itu? Pertanyaan sederhana ini jarang kita tanyakan.

Di banyak tempat, termasuk di Aceh penyemprotan pestisida masih dilakukan tanpa sarung tangan, masker, kacamata, dan sepatu pelindung. Bahkan seringkali kita melihat petani tidak menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) saat mencampur dan menyemprot pestisida. Kita sedang menghadapi jarak, antara pengetahuan dan kebiasaan. Jarak itulah yang harus kita perbaiki.

Pestisida memang diperlukan untuk mengendalikan hama. Namun, ketika dosis berlebihan, penyemprotan terlalu sering, atau perlindungan diri diabaikan, risikonya tidak berhenti pada hama. Pestisida dapat mengenai tubuh petani melalui kulit dan pernapasan. Sebagian dapat tertinggal pada tanaman. Sebagian jatuh ke tanah. Sebagian lainnya dapat terbawa limpahan air menuju saluran irigasi. Di sinilah persoalannya menjadi lebih besar.

Bahan Aktif Tidak Selalu Tinggal di Sawah

Bahan aktif seperti klorpirifos dan sipermetrin memang efektif mengendalikan serangga, tetapi penggunaannya juga harus memperhitungkan organisme non-target dan lingkungan. Sipermetrin, misalnya, diketahui memiliki toksisitas tinggi terhadap sejumlah organisme akuatik.

Lalu bagaimana dengan beras yang kita makan? Kita tidak boleh sembarangan mengatakan bahwa setiap beras yang disemprot pestisida pasti berbahaya. Residu harus dibuktikan melalui pengujian. Karena itu pemerintah kita telah menetapkan batas maksimum residu pestisida dalam pangan melalui Peraturan Badan Pangan Nasional Nomor 15 Tahun 2024.

Namun justru di sinilah kita harus bertanya, seberapa rutin hasil pertanian kita diuji? Jangan sampai kita terlalu sibuk menghitung berapa ton gabah yang dihasilkan, tetapi lupa menghitung bagaimana keamanan pangan tersebut.

Begitu pula dengan tanah. Tanah bukan sekadar tempat padi tumbuh. Di dalamnya terdapat mikroorganisme yang menjaga siklus unsur hara dan keseimbangan ekosistem. Penggunaan pestisida yang tidak tepat dapat memberikan tekanan terhadap organisme non-target.

Ketika pestisida digunakan terus-menerus, masalah lain dapat muncul, diantaranya resistensi (kebal) hama. Hama yang mampu bertahan dapat berkembang biak. Pestisida semakin sering digunakan. Dosis atau jenis bahan aktif mungkin semakin beragam. Akhirnya kita masuk ke sebuah lingkaran yang sulit dihentikan.

Karena itu, solusinya bukan sekadar mengatakan kepada petani,“Gunakan APD!” Namun, kita harus memberikan pengetahuan, akses APD yang layak, pendampingan penyuluh, pengawasan penggunaan pestisida, pengujian residu pangan, pemantauan kualitas air dan tanah, serta memperkuat Pengendalian Hama Terpadu (PHT).

Petani tidak boleh dibiarkan sendirian menghadapi kondisi ini. Sebab petani adalah orang yang menjaga pangan kita. Maka ketika mereka menyemprot sawah, jangan hanya bertanya, apakah hamanya mati. Namun penting juga kita tanyakan juga, apakah petaninya aman?

Begitujuga, ketika air mengalir keluar dari sawah yang terkontaminasi pestisida, apa yang ikut terbawa. Pertanyaan lainnya, saat nasi tersaji di meja, apakah kita benar-benar tahu dari mana dan bagaimana pangan itu dihasilkan?

Pertanian berkelanjutan bukan sekadar menghasilkan lebih banyak. Pertanian berkelanjutan adalah ketika petaninya sehat, pangannya aman, tanahnya tetap hidup, dan airnya tetap terjaga. Karena pada akhirnya, ketika kita melindungi petani dari penggunaan pestisida yang tidak tepat, kita bukan hanya sedang menyelamatkan seorang petani. Sugguh, kita sedang menjaga kehidupan di balik setiap butir nasi yang kita makan.(***)
iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Stars Rally to Beat Predators in Winter Classic at Cotton Bowl